Mahfudhotin. Powered by Blogger.
RSS

Sanksi dan Ganjaran dalam Bertakwa



Kata takwa sudah tidak asing di telinga kita. Kata ini merupakan istilah agama dan telah masuk dalam perbendaharaan bahasa nasional. Bahkan ketakwaan merupakan syarat pengangkatan pejabat-pejabat Negara kita.
            Dari segi bahasa, kata taqwa berarti ‘memelihara’ atau ‘menghindari’. Dalam konteks keagamaan, ‘pemeliharaan’ tersebut berkaitan dengan ‘diri atau keluarga’ sedangkan ‘penghindaran’-nya berkaitan dengan siksa Tuhan di dunia ini dan takwa sebagai ‘melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya-Nya’. Sayang, definisi ini jarang dijabarkan pengertiannya sehingga menimbulkan kedangkalan pemahaman dan kegersangan penghayatan agama.
            Mari kita pertanyakan: “Apa saja isi dan bentuk perintah Allah?”
            Jika Anda membuka Al-Quran, Anda pasti menemukan beragam gaya bahasa yang digunakan untuk maksud itu dan beragam pula makhluk yang diperintah dan masalah yang diperintahkan-Nya. Ada perintah yang ditujukan kepada manusia, dan ada pula yang ditujukan kepada binatang dan alam raya. Ada perintah-Nya yang berkaitan dengan hokum-hukum alam dan hokum-hukum kemasyarakatan (sunnatullah). Semuanya ini termasuk dalam jangkauan makna perintah Allah yang dikemukakan di atas.
            Bagi yang taat melaksanakan perintah-Nya pastilah memperoleh ganjaran, demikian pula sebaliknya. Allah Mahaadil, Dia tidak memilih tetapi memilah. Dia tidak lalai atau tidur hanya seringkali menunda dan mengulur. Perintah yang berkaitan dengan syariat, seperti sholat, puasa, zakat, ditunda ganjaran dan sanksinya sampai hari kemudian. Kalaupun ganjaran atau sanksi itu ada yang dapat dirasakan di dunia, itu sekadar panjar. Berbeda dengan sikap terhadap sunnatullah, yang sanksi dan ganjarannya dirasakan dalam kehidupan dunia ini. Siapa yang giat bekerja , belajar, akan kaya dan sukses dan itulah ganjaran-Nya. Siapa yang membiarkan diri terserang kuman, atau menganggur tidak bekerja, pasti menderita dan itulah siksa-Nya.     Bukankah hukum-hukum alam dan kemasyarakatan adalah ciptaan dan ketentuan Allah juga, dan penderitaan yang dialami akibat melanggar adalah ketetapan-Nya juga yang diberlakukan tanpa pilih kasih serta berdasarkan hukum-hukum itu? Jika demikian, mengapa eagu menyatakan bahwa kemiskinan dan penyakit serta keterbelakangan akibat pelanggaran adalah siksa-Nya di dunia ini? Tak perlu ragu selama kita menyadari firman-Nya ini : Allah tidak menganiaya mereka tetapi mereka menganiaya diri sendiri (QS 3:117).
Setelah hal-hal yang diuraikan di atas itu jelas, kiranya tidak perlu lagi kita mempertanyakan masalah berikut ini:
            “Mengapa non-Muslim maju sedangkan mereka tidak melakukan sholat dan tidak juga puasa?” bukankah kemajuan material mereka diraih dengan bertebaranny mereka di bumi dan cucuran keringat?
            “Mengapa rizki tak kunjung datang sedangkan tahjjud dan I’tikaf telah melengkungkan punggung?” bukankah ini ganjarannya ada di akhirat nanti? Tidak pula wajar diragukan siksa Tuhan terhadap yang melanggar syartiat-Nya, karena memang tidak disini tempatnya mereka disiksa.
            Akhirnya, kita harus sadar bahwa kita baru mengamalkan setengah dari takwa kita, sementara setengah takwa lainnya dilaksanakan dengan baik oleh umat yang lain. Rupanya, tidak sedikit di antara kita yang bukan saja tidak menghayati, tetapi mengerti pun belum, mengenai makna bertakwa, kendati perintah ini wajib diperdengarkan, sedikitnya setiap hari Jumat.

“Lentera Hati”, Karya M. Quraish Shihab

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kejujuran, betapa langkanya kata ini!

Mencari orang yang jujur saat ini hampir sama mustahilnya dengan mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Ya!!
Jujur bukanlah semata-mata tidak berkata dusta. Ketika Nabi bersabda, “katakanlah kebenaran itu walaupun pahit”, sebenarnya Nabi memerintahkan kita untuk berlaku jujur dengan lidah kita. Ketika Nabi bersabda, “andaikata Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya,” sesungguhnya Nabi mengajarkan kita untuk bertindak jujur dalam penegakkan hukum meskipun terhadap keluarga sendiri. Ketika Al-Qur’an merekam kalimat suci, “sampaikanlah amanah kepada yang berhak,” sesungguhnya Allah menyuruh kita bersikap jujur ketika memegang amanah, baik selaku dosen, pejabat, ataupun pengusaha. Sewaktu Allah menghancurkan harta si Karun karena Karun bersikukuh bahwa harta itu diraihnya karena kerja kerasnya semata, bukan karena anugrah Allah, sebenarnya Allah sedang memberi peringatan kepada kita bahwa itulah azab Allah terhadap mereka
yang tidak berlaku jujur akan rahmat Allah.

Kemudian, bagaimanakah dengan diri kita? Bercermin! Mulai Pandangi diri kita sekarang. Masihkah tersedia kejujuran di dalam segala tindak tanduk kita? Ketika keenggangan menolong teman atau sahabat sendiri, dan kita sadar bahwa kita mampu menolongnya, saat itu kita telah 'menodai' kejujuran.

Ketika di sebuah pengajian atau kajian kita ditanya jama'ah sebuah pertanyaan yang sulit, dan kita tahu bahwa kita tak mampu menjawabnya, tapi kita jawab juga dengan "putar sana-sini"(wah-wah nekat juga ya!!!), maka kita telah melanggar sebuah kejujuran (orang kini menyebutnya "kejujuran ilmiah").

Adakah orang jujur saat ini teman?

Bahkan Yudhistira yang dalam kisah Mahabharata terkenal jujur pun sempat berbohong dihadapan Resi Durna saat perang Bharata Yudha. Dewa dalam kisah tersebut menghukum Yudhistira dengan membenamkan roda keretanya ke dalam tanah beberapa senti. Anda boleh tak percaya cerita Mahabharata ini, tapi jangan bilang bahwa Anda meragukan Allah mampu menghukum kita akibat ketidakjujuran kita dengan lebih dahsyat lagi. Kalau Dewa mampu menghukum Yudhistira seperti itu, jangan-jangan Allah akan membenamkan seluruh yang kita banggakan ke dalam tanah hanya dalam kejapan mata saja (oh my God).

Guru ngajiku pernah bercerita ketika ada orang yg baru masuk Islam bertanya kepada Rasul bahwa ia belum mampu untuk mengikuti gerakan sholat dan kewajiban lainnya, Rasul hanya memintanya untuk berlaku jujur.

Ketika ada seorang teman yang masuk Islam, dan belum bisa sholat serta puasa, ku minta dia untuk berlaku jujur saja dahulu. Si teman itu terperanjat. Boleh jadi dia kaget bahwa betapa Islam memandang tinggi nilai kejujuran. Kini,akulah yang terperanjat dan terkaget-kaget menyaksikan perilaku kita semua yang sudah bisa sholat dan puasa namun tidak mampu berlaku jujur. Naadubillahimindzalik Robbi ..

Duh Gusti Pengeran! Betapa jauh prilaku kami dari contoh yang diberikan Nabi-Mu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rumput yang Bergoyang

Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Ebiet G.Ade saat belasan tahun yang lalu, dalam lagunya menjadi hit. Ebiet menggugat, dia ingin bertanya pada rumput yang bergoyang. Apakah dia tak lagi punya asa? atau dia frustasi?

Namun aku bisa menangkap apa isi gugatannya ketika dia berteriak, "mengapa di tanahku terjadi bencana?" Apa ini juga yang ditanyakan bangsa kita saat ini?

Dia kabarkan berita ini kepada laut, karang, ombak bahkan matahari. Sayang, dia mengaku tak memperoleh jawaban. Yang dapat dia lakukan adalah menduga-duga. Mungkinkah ini murka Tuhan? Mungkinkah ini karena alam tak lagi bersahabat?

We Don't Know. Entahlah. Boleh jadi Tuhan memang sedang murka. Tetapi, aku mengira benar bahwa alam tampaknya sedang tak bersahabat saja. Coba lihat, merapi memuntahkan laharnya. Belum habis air mata kita, Irian Jaya, jakarta dan Samarinda diterjang banjir. Allahu Robbi..

Api. Air. Inikah tanda kemarahan alam? Jika iya, mengapa Tuhan ijinkan alam untuk mengeskpresikan kegalauannya?

Kemudian, sampai kapan Tuhan ijinkan alam untuk marah? Alam marah, benarkah ini juga berarti Tuhan sedang marah?

Ahaaa!! Tiba-tiba gugatan dan renungan Ebiet belasan tahun yang lalu terdengar kembali dan mampir ke kamarku. Bedanya, aku yang sekarang masih mempunyai harapan, meski sedikit ada kecemasan tersendiri.Harapan itulah yang membuat aku tak bertanya pada rumput yang bergoyang. Harapan itulah yang membuat aku 'merayu' Tuhan dalam doaku. Semoga Tuhan segera menyuruh alam berhenti 'ngambek'.

Rumput bergoyang,
merapi berguncang,
dataran tergenang
Ah...duhai alam, terimalah salamku, bukankah tak baik kalau kita bertengkar lebih dari tiga hari?

al-Haq min Allah!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS