Mahfudhotin. Powered by Blogger.
RSS

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

كيفادا  ياغ  تيرحورمة  بافاء  دوكتور  كريشنا  عماد  الدين  أحمد  شهداء 
     السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

  سايا  أوجين  ميغوجافكان  بيريبو-ريبو  تيريما كاسيه  كيفادا بافاء  سيلاكو  دوسين فيمبيمبيغ  ياغ  تيلاه  ميمبيري  فيرهاتييان  فينوه  سيلاما  سايا  مينيمبا  عيلمو  دي  إ  ت  ب.

      دالام  هال  إيني  سايا  جوكا  ميمينتا  بيريبو-ريبو  ماءاف  أتاس  كيسالاهان  دان  كيتيليدوران  سايا  ياغ  سيريغ  كالي  سايا  لاكوكان  سيلاما  مينجادي  أناء بيمبيغان  بافاء.

سيموكا بافاء بيسا  تيروس  بيرسابار  مينجادي  دوسين  فيمبيمبيغ  هيغكا سيميستير  ديفان  دان  سيتيروسيا. باكيمانافون  جوكا  بافاء أدالاه  أوراغ  تووا  كيدووا  سايا. سيموكا عيلمو  ياغ  بافاء  بيريكان  بركة  في  الدين  والدنيا  والآخرة. آمين  يا  رب  العالمين.



والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

أوجين                                                                    

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ketika Kaki Lumpuh


Pernahkah kita merasa ketika kita jalan-jalan ke taman atau alun-alun kota, kita kuat saja melangkahkan kaki kita. Sepanjang jalan kita merasa nyaman dan menyenangkan. Sedangkan ketika adzan berkumandang, Allah langsung yang memanggil kita, apakah kita pergi ke masjid ? Padahal rumah ibadah tersebut tidak jauh dari rumah. Terasa berat kaki ini melangkahkan kaki, serasa kaki ini menjadi lumpuh.

Ketahuilah kawan, ini adalah penyakit. Tidak peduli santri, ustadz, kiai, mahasiswa, tukang becak, mereka semua dapat terserang penyakit seperti ini (bisa jadi saya atau Anda, lebih jelek Anda, hehhe just kid). Penyakit ini lah yang dinamakan penyakit hati. Kalau tidak segera diobati maka lama-lama hati tersebut semakin parah semakin mengenaskan, sehinga membuat hati ini menjadi mati (naadubillahiminzdalik). Padahal yang dinilai disisi Allah bukan jasadnya, bukan dzohirnya, bukan chasingnya, akan tetapi batin, hatinya, yang sesuai dalam sabda Rasulullah SAW yaitu : innallaha la yanzuru ila suarikum wa la ila ajsadikum walakin yanzuru ila qulubikum waniatikum. Sesungguhnyanya Allah tidak menilai kalian tidak dari rupa. Maksudnya dari rupa ini adalah seperti kehebatan seseorang itu dari segi wajah, kedudukan penampilan, kekuasaan, derajat, keturunan dan sebagainya. Akan tetapi yg dinilai adalah hati, batin, rohani, yakni niat untuk mengabdikan diri dan mengerjakan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala larangan. Oleh karena itu hati haruslah hidup. 

Bagaimna cara menghidupkan hati yang mati? "dawa'ul qulub allati tamut bidzikril hayyiladzi la yamut" yang artinya obat hati yang mati adalah dengan berdzikir kepada dzat yang tidak mati, yakni Allah SWT. Dengan berdzkir kpd Allah, sama artinya dengan menghidupkan hati yang sedang mati.

Allah memerintahkan kepada kita, "Fazkuruni Azkurkum Washkuruli Wala Takfurun". Firman Allah Fazkuruni Azkurkum : ingatlah kalian kepdaKu, maka Aku akan ingat kamu. Jika kalian bnyak mengingat Aku maka Allah bnyak ingat kalian. Jika kalian sedikit ingat Aku, maka Allah juga sedikit ingat kalian. Jika kalian terus ingat Aku, maka Allah juga terus ingat kalian. Jika kalian tidak ingat Aku, maka Allah juga tidak ingat kalian. Ada cerita fadhilah dzkir suatu kala. Ada seorang lelaki biasa saja yang jatuh hati kepda wanita yang cantik. Cinta yang bertepuk sebelah tangan oleh lelaki tersebut, bagai pungguk merindukan bulan. Prinsip hidup laki-laki tersebut adalah 'tidak mau menikah kalau tidak dengan wanita tersebut'. Maka apa yang dilakukan lelaki tersebut? Sowan Kiai (ahli agama). Ngendiko Kiai tersebut adalah "ini 'Tasbih' untukmu dan tetap di dlam kamar ini, dan sebut nama orang yang kamu cintai trsbut(nama wanita itu 'Aisyah')". Oleh kiai tersebut, beliau melarang laki-laki itu keluar sampai kiai tersebut yang mengetuk pintu dan menyuruh laki-laki itu keluar kamar. 

Tiba-tiba pintu rumah Kiai tersebut diketuk oleh seorang tamu. 

bersambung dulu ^^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sanksi dan Ganjaran dalam Bertakwa



Kata takwa sudah tidak asing di telinga kita. Kata ini merupakan istilah agama dan telah masuk dalam perbendaharaan bahasa nasional. Bahkan ketakwaan merupakan syarat pengangkatan pejabat-pejabat Negara kita.
            Dari segi bahasa, kata taqwa berarti ‘memelihara’ atau ‘menghindari’. Dalam konteks keagamaan, ‘pemeliharaan’ tersebut berkaitan dengan ‘diri atau keluarga’ sedangkan ‘penghindaran’-nya berkaitan dengan siksa Tuhan di dunia ini dan takwa sebagai ‘melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya-Nya’. Sayang, definisi ini jarang dijabarkan pengertiannya sehingga menimbulkan kedangkalan pemahaman dan kegersangan penghayatan agama.
            Mari kita pertanyakan: “Apa saja isi dan bentuk perintah Allah?”
            Jika Anda membuka Al-Quran, Anda pasti menemukan beragam gaya bahasa yang digunakan untuk maksud itu dan beragam pula makhluk yang diperintah dan masalah yang diperintahkan-Nya. Ada perintah yang ditujukan kepada manusia, dan ada pula yang ditujukan kepada binatang dan alam raya. Ada perintah-Nya yang berkaitan dengan hokum-hukum alam dan hokum-hukum kemasyarakatan (sunnatullah). Semuanya ini termasuk dalam jangkauan makna perintah Allah yang dikemukakan di atas.
            Bagi yang taat melaksanakan perintah-Nya pastilah memperoleh ganjaran, demikian pula sebaliknya. Allah Mahaadil, Dia tidak memilih tetapi memilah. Dia tidak lalai atau tidur hanya seringkali menunda dan mengulur. Perintah yang berkaitan dengan syariat, seperti sholat, puasa, zakat, ditunda ganjaran dan sanksinya sampai hari kemudian. Kalaupun ganjaran atau sanksi itu ada yang dapat dirasakan di dunia, itu sekadar panjar. Berbeda dengan sikap terhadap sunnatullah, yang sanksi dan ganjarannya dirasakan dalam kehidupan dunia ini. Siapa yang giat bekerja , belajar, akan kaya dan sukses dan itulah ganjaran-Nya. Siapa yang membiarkan diri terserang kuman, atau menganggur tidak bekerja, pasti menderita dan itulah siksa-Nya.     Bukankah hukum-hukum alam dan kemasyarakatan adalah ciptaan dan ketentuan Allah juga, dan penderitaan yang dialami akibat melanggar adalah ketetapan-Nya juga yang diberlakukan tanpa pilih kasih serta berdasarkan hukum-hukum itu? Jika demikian, mengapa eagu menyatakan bahwa kemiskinan dan penyakit serta keterbelakangan akibat pelanggaran adalah siksa-Nya di dunia ini? Tak perlu ragu selama kita menyadari firman-Nya ini : Allah tidak menganiaya mereka tetapi mereka menganiaya diri sendiri (QS 3:117).
Setelah hal-hal yang diuraikan di atas itu jelas, kiranya tidak perlu lagi kita mempertanyakan masalah berikut ini:
            “Mengapa non-Muslim maju sedangkan mereka tidak melakukan sholat dan tidak juga puasa?” bukankah kemajuan material mereka diraih dengan bertebaranny mereka di bumi dan cucuran keringat?
            “Mengapa rizki tak kunjung datang sedangkan tahjjud dan I’tikaf telah melengkungkan punggung?” bukankah ini ganjarannya ada di akhirat nanti? Tidak pula wajar diragukan siksa Tuhan terhadap yang melanggar syartiat-Nya, karena memang tidak disini tempatnya mereka disiksa.
            Akhirnya, kita harus sadar bahwa kita baru mengamalkan setengah dari takwa kita, sementara setengah takwa lainnya dilaksanakan dengan baik oleh umat yang lain. Rupanya, tidak sedikit di antara kita yang bukan saja tidak menghayati, tetapi mengerti pun belum, mengenai makna bertakwa, kendati perintah ini wajib diperdengarkan, sedikitnya setiap hari Jumat.

“Lentera Hati”, Karya M. Quraish Shihab

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS